Labuhanbatu Selatan (BreakingIndonesia.com) Menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah,denyut pembinaan keagamaan terasa semakin kuat hingga ke balik tembok pengamanan.
Di Labuhanbatu Selatan,Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Kotapinang menegaskan bahwa kesiapan menyambut Ramadhan tidak semata diukur dari aspek teknis dan pengamanan,melainkan juga dari keteguhan moral serta kesiapan spiritual.
Di ruang yang serba terbatas,ikhtiar menjaga ketenangan batin,disiplin dan harmoni sosial justru menjadi fondasi utama agar ibadah puasa dapat dijalani secara khusyuk dan bermakna.
Semangat itu berpijak pada firman Allah SWT:“Wahai orang-orang yang beriman,diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat suci tersebut menjadi penegasan bahwa Ramadhan hadir bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga,melainkan sebuah madrasah ruhani—ruang pembinaan jiwa,penghalusan akhlak,serta pemulihan kesadaran diri.
Dalam bingkai itulah,menyongsong bulan penuh ampunan dan keberkahan,jajaran Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Kotapinang mengambil langkah preventif melalui pengarahan langsung kepada seluruh warga binaan.
Pada Selasa (17/2/2026),Kepala Sub Seksi Keamanan dan Ketertiban (Kamtib) bersama regu pengamanan memberikan pengarahan khusus sebagai ikhtiar awal menata suasana batin dan sosial di dalam lapas.
Langkah ini dimaksudkan untuk memastikan pelaksanaan ibadah puasa berlangsung dalam kondisi aman,tertib dan kondusif,sehingga Ramadhan tidak hanya dirasakan sebagai kewajiban ritual,tetapi juga momentum pembinaan diri yang mendalam.
Di hadapan warga binaan,Chairul Affandi menegaskan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah itu sendiri.
Ia mengimbau seluruh warga binaan untuk mematuhi aturan yang berlaku,menghindari pelanggaran,serta menjauhi tindakan yang berpotensi mengganggu stabilitas lapas selama bulan Ramadhan.
Menurutnya,ketertiban bukan sekadar kewajiban administratif,melainkan wujud tanggung jawab moral dan spiritual.
Ramadhan adalah momentum melatih pengendalian diri—menahan amarah,menjaga lisan,serta menumbuhkan sikap saling menghormati antar sesama.
Nilai-nilai tersebut,kata dia,harus tercermin dalam perilaku sehari-hari,baik bagi warga binaan yang menjalankan ibadah puasa maupun yang tidak.
Lebih jauh,Chairul Affandi mengajak warga binaan menjadikan Ramadhan sebagai ruang muhasabah dan hijrah batin.
Melalui puasa,shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, serta amalan-amalan lainnya,warga binaan diharapkan mampu meningkatkan keimanan,memperbaiki diri dan mempererat ukhuwah Islamiyah.
Dalam suasana kebersamaan yang tertib dan damai,nilai kesabaran,keikhlasan,serta empati diyakini dapat tumbuh dan menguat.
Tak hanya aspek spiritual,pengarahan juga menyoroti pentingnya menjaga kebersihan kamar hunian dan lingkungan blok,memperhatikan kesehatan selama berpuasa,serta segera melaporkan kepada petugas apabila terdapat gangguan keamanan maupun kesehatan.
Regu pengamanan, ditegaskan Chairul,akan terus melakukan pengawasan secara humanis namun tetap tegas,demi memastikan seluruh rangkaian kegiatan Ramadhan berjalan aman dan tertib.
Harapannya,dengan adanya pengarahan ini,seluruh warga binaan dapat menjalani ibadah puasa dengan penuh kesadaran,kedisiplinan dan tanggung jawab.
Dengan demikian, suasana Ramadhan di dalam lapas tidak hanya aman secara fisik,tetapi juga menghadirkan ketenangan batin serta nuansa keberkahan yang menyejukkan.
Sementara itu,Kepala Lapas Kelas III Kotapinang,Haris Damanik,S.H.,M.H.,saat dikonfirmasi di ruang kerjanya menegaskan bahwa pengarahan tersebut merupakan wujud nyata kepedulian lapas dalam melakukan pembinaan keimanan dan ketakwaan warga binaan menjelang bulan suci Ramadhan.
Menurutnya,Ramadhan adalah momentum strategis untuk menanamkan nilai-nilai spiritual yang dapat menjadi bekal perubahan sikap dan perilaku.
Ketertiban dan kondusivitas selama Ramadhan akan membuka ruang bagi warga binaan untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif seperti tadarus Al-Qur’an,shalat tarawih,serta ibadah-ibadah lainnya.
“Ketika Ramadhan dijalani dengan tertib dan penuh kesadaran,maka ibadah itu bukan hanya ritual sesaat,tetapi menjadi spirit untuk terus berbuat kebaikan di masa mendatang,”ujar Haris Damanik,S.H.,M.H.
Ia menambahkan,pembinaan keagamaan yang konsisten diharapkan mampu menjadikan lapas sebagai ruang pembelajaran kehidupan—tempat warga binaan menemukan kembali jati diri,memperkuat iman,serta menyiapkan diri untuk kembali ke tengah masyarakat dengan nilai-nilai yang lebih baik.
Dalam cahaya Ramadhan,bahkan di balik jeruji,harapan untuk berubah dan bertakwa tetap menyala,menjadi suluh bagi perjalanan hidup yang lebih bermakna.
(Jhon)












