Bukit Kodok Bangkit Dari Kegelapan,Tujuh Titik Cahaya Ubah Wajah Malam Labusel

Foto istimewa

Labuhanbatu Selatan (BreakingIndonesia.com) Puluhan tahun kegelapan seolah menjadi takdir yang tak tertulis bagi tanjakan Bukit Kodok.Setiap malam turun,ruas jalan itu berubah menjadi lorong sunyi yang memicu rasa waswas.

Minim penerangan,rawan kecelakaan dan kerap diselimuti ketakutan,Bukit Kodok pernah menjadi simbol abainya perhatian terhadap keselamatan publik,Pada Sabtu (21/2/2026),Bukit Kodok.

Namun kini,di titik yang dulu dikenal mencekam,berdiri tujuh unit lampu tenaga surya yang memancarkan cahaya tegas.

Sebuah pesan keras mengalir dari sana:dunia usaha tak boleh hanya menghitung laba,tetapi juga wajib menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Di balik cahaya itu,ada nama Arwi Winata,pemilik PT.Mitra Sawit Perkasa.ia menegaskan bahwa perusahaan bukan sekadar mesin produksi atau angka-angka keuntungan dalam laporan keuangan.

“Dunia usaha tidak hanya berbicara soal produksi dan keuntungan,tetapi juga tentang kontribusi nyata bagi lingkungan sosial tempat perusahaan itu tumbuh dan berkembang,”tegasnya.

Bukit Kodok di wilayah Labuhanbatu Selatan bukan sekadar tanjakan biasa.Selama bertahun-tahun,kawasan ini identik dengan kegelapan nyaris total saat malam tiba.

Bagi para pengendara,melintasi jalur ini menuntut kewaspadaan ekstra.Jarak pandang terbatas,risiko kecelakaan meningkat-terutama saat hujan atau kabut turun.

Tak jarang pula muncul kekhawatiran akan potensi tindak kriminal di titik yang jauh dari permukiman.

Ironisnya,di tengah geliat ekonomi dan mobilitas warga yang terus bergerak,jalan yang menjadi urat nadi penghubung tersebut justru tertinggal dalam hal penerangan.

Situasi inilah yang menggugahArwi Winata. Sebagai putra daerah Labusel,ia memahami kondisi riil di lapangan-bukan sekadar dari laporan,tetapi dari pengalaman dan kedekatannya dengan masyarakat.

Langkah berani pemasangan tujuh unit lampu solar cell ini digagas melalui tim humasnya,David Arjuna Sihombing,S.T,sebagai bentuk tanggung jawab moral dan sosial.

“Ini bukan sekadar memasang lampu.Ini tentang menghadirkan rasa aman dan ketenangan bagi masyarakat.

Bapak Arwi Winata tergerak karena beliau adalah putra daerah Labusel.Beliau memahami betul bagaimana kondisi di lapangan,”ujarnya.

Lampu-lampu tenaga surya yang kini berdiri di Bukit Kodok bukan hanya alat penerang jalan.

Foto istimewa

Ia menjadi simbol perubahan cara pandang-bahwa sektor swasta memiliki peran strategis dalam menjawab persoalan sosial di daerah.

Cahaya itu membawa harapan besar:Meminimalisir risiko tindak kejahatan di titik rawan.Mengurangi potensi kecelakaan lalu lintas di malam hari.

Mendukung aktivitas penjaga posko,relawan,hingga konten kreator yang beraktivitas 24 jam.

Penggunaan energi surya juga menunjukkan komitmen terhadap solusi ramah lingkungan tanpa membebani jaringan listrik konvensional.

Langkah ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kepedulian sederhana.Di tengah tantangan pembangunan infrastruktur daerah,inisiatif ini menjadi oase harapan.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Kini,Bukit Kodok tak lagi sepenuhnya tenggelam dalam gelap.Dari tanjakan yang dulu sunyi dan mencekam,terpancar cahaya-bukan hanya cahaya lampu,tetapi cahaya kepedulian seorang putra daerah yang memilih bertindak demi tanah kelahirannya.(Jhon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://febm.umrah.ac.id/unik-kegiatan-mahasiswa-ukm/ https://siladikti.kopertis7.go.id/ https://cvpulsa.id/tutorial https://brida.sultengprov.go.id/ https://ppid.umrah.ac.id/ https://ppid.bpkad.jatengprov.go.id/