Menteri Israel Ejek Aktivis Flotilla Gaza Yang Diborgol: Kami Adalah Tuan

Foto istimewa

ISRAEL (BreakingIndonesia.com) Kecaman dari berbagai negara bermunculan terhadap pemerintah Israel terkait perlakuan terhadap ratusan aktivis dan relawan pro-Palestina yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.

Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Italia, dan Kanada termasuk negara yang menyatakan kemarahan setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang memperlihatkan dirinya mengejek para aktivis yang berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung mereka.

Aksi tersebut juga menuai kritik dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mengatakan tindakan itu “tidak sejalan dengan nilai-nilai Israel”.

Kelompok hak asasi manusia yang mewakili 430 aktivis dan relawan Global Sumud Flotilla dari lebih 40 negara menuntut pembebasan mereka.

Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan itu bertujuan menyoroti kondisi sulit yang dialami warga Palestina di Jalur Gaza.

Namun Israel menyebut misi tersebut sebagai “aksi humas untuk kepentingan Hamas”.

Lebih dari 50 kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla berlayar dari Turki pada Kamis (14/05).

Pada Senin (18/05) pagi, pasukan Angkatan Laut Israel mulai mencegat armada tersebut di perairan internasional sebelah barat Siprus, sekitar 250 mil laut dari pantai Gaza yang diblokade Israel.

Penyelenggara flotilla menyebut seluruh kapal telah dicegat pada Selasa (19/05) malam. Salah satu kapal disebut berhasil mendekat hingga 80 mil laut dari wilayah Palestina tersebut.

Pihak penyelenggara menuduh Israel melakukan “agresi ilegal di laut lepas” dan menyebut pasukan Israel menembaki enam kapal, menggunakan meriam air, serta sengaja menabrak satu kapal.

Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim pasukannya tidak menggunakan peluru tajam dan menegaskan tidak akan mengizinkan pelanggaran terhadap blokade laut Gaza.

Kementerian tersebut juga menyebut seluruh aktivis telah dipindahkan ke kapal Israel dan akan diizinkan bertemu perwakilan konsuler setelah tiba di Israel.

Pada Rabu (20/05), kelompok HAM Israel, Adalah, mengatakan para aktivis “dibawa ke wilayah Israel sepenuhnya tanpa persetujuan mereka” dan ditahan di Pelabuhan Ashdod.

“Tim hukum akan menantang legalitas penahanan ini dan menuntut pembebasan segera semua peserta flotilla,” kata perwakilan Adalah.

Pada Rabu sore, Ben-Gvir mengunggah video di media sosial bertuliskan “Selamat datang di Israel”.

Video itu memperlihatkan dirinya mengunjungi fasilitas penahanan di Pelabuhan Ashdod tempat para aktivis ditahan.

Ia terlihat menyemangati petugas keamanan saat mereka menekan seorang aktivis perempuan yang meneriakkan “Palestina merdeka”.

Ben-Gvir kemudian tampak melambaikan bendera Israel berukuran besar di samping puluhan aktivis yang berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung mereka.

“Selamat datang di Israel. Kami adalah tuan,” katanya dalam bahasa Ibrani.

Aktivis lainnya terlihat berlutut di dek kapal saat lagu kebangsaan Israel diputar.

Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyebut tindakan Ben-Gvir “menjijikkan”.

Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, mengatakan video itu menunjukkan “kejadian yang benar-benar memalukan” dan menyebut Kedutaan Israel telah dipanggil untuk memberikan penjelasan.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyebut perlakuan terhadap para aktivis “sangat memuakkan”.

Italia, Prancis, Belanda, Belgia, dan Spanyol juga menyatakan tindakan Ben-Gvir tidak dapat diterima dan telah memanggil duta besar Israel di negara masing-masing.

Menteri Luar Negeri Irlandia, Helen McEntee, mengatakan rekaman itu menunjukkan peserta yang ditahan secara ilegal tidak diperlakukan dengan martabat dan rasa hormat.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mengatakan pemerintah terus melakukan koordinasi untuk penyelamatan warga negara Indonesia yang ditangkap Israel.

“Kita berharap kondisi mereka baik-baik saja. Kami juga terus melakukan upaya koordinasi karena kita tidak punya hubungan langsung,” ujarnya.

Sebanyak sembilan WNI yang mengikuti Global Sumud Flotilla 2.0 dilaporkan ikut ditangkap Israel.

Dalam langkah yang tidak biasa, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, turut mengecam aksi Ben-Gvir.

“Anda dengan sadar merugikan negara kita dalam pertunjukan memalukan ini dan bukan untuk pertama kalinya,” tulis Saar di X.

Ben-Gvir kemudian membalas bahwa Israel telah berhenti menjadi pihak yang mudah ditekan.

Netanyahu kemudian menegur Ben-Gvir secara terbuka dan menyatakan Israel memiliki hak mencegah flotilla memasuki perairan teritorialnya, tetapi cara Ben-Gvir menangani para aktivis tidak sesuai dengan norma Israel.

Netanyahu juga mengatakan dirinya telah menginstruksikan otoritas Israel untuk segera mendeportasi para aktivis tersebut.

Global Sumud Flotilla menyebut para aktivis membawa makanan, susu formula bayi, dan bantuan medis bagi warga Gaza yang mengalami krisis kemanusiaan.

Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim Gaza telah menerima lebih dari 1,5 juta ton bantuan dan ribuan ton pasokan medis selama tujuh bulan terakhir.

Namun, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan banyak keluarga di Gaza masih hidup di tenda pengungsian dan bangunan rusak dengan akses terbatas terhadap layanan dasar, air bersih, dan pengelolaan sampah.

PBB juga menyebut distribusi bantuan kemanusiaan terus terhambat akibat pembatasan impor suku cadang penting, generator cadangan, bahan bakar, dan perlengkapan lainnya.
(Timred)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://febm.umrah.ac.id/unik-kegiatan-mahasiswa-ukm/ https://siladikti.kopertis7.go.id/ https://cvpulsa.id/tutorial https://brida.sultengprov.go.id/ https://ppid.umrah.ac.id/ slot gacor