Istri Terduga Maling Ayam di Bali Klaim Suami Tidak Pernah Mencuri

Foto istimewa

Bali (BreakingIndonesia.com) Kisah istri pria berinisial KD yang tersandung kasus dugaan pencurian ayam di Bali masih menjadi perhatian publik.

Setelah menerima bantuan sebesar Rp50 juta dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Dewi Suryantini disebut memberikan keterangan yang berbeda dengan fakta yang ditemukan pihak kepolisian.

Sebelumnya, Dewi Suryantini mengaku kepada Dedi Mulyadi bahwa suaminya, KD, tidak pernah terlibat kasus pencurian selama 17 tahun usia pernikahan mereka.

Saat berbincang dengan Dedi, Dewi mengatakan tidak pernah mengetahui suaminya mengambil barang milik orang lain, baik ayam maupun barang lainnya.

“Selama 17 tahun pernah ada kasus atau dia mendapat tuduhan ngambil ayam, sepatu, ngambil apa, gak pernah?” tanya Dedi Mulyadi, dikutip dari Tribun Bogor, Sabtu (1/8/2026).

Dewi pun menjawab bahwa suaminya tidak pernah melakukan pencurian.

Namun, pernyataan tersebut berbeda dengan keterangan aparat kepolisian.

Kapolres Tabanan AKBP I Putu Bayu Pati menyebut KD merupakan seorang residivis yang pernah menjalani hukuman dalam kasus pencurian cengkeh pada 2018.

Selain itu, Polres Badung juga mengungkap KD diduga masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) karena diduga terlibat dalam sejumlah aksi pencurian di wilayah Kabupaten Badung.

KD disebut pernah membobol toko hingga mencuri ayam.

Dalam kasus terbaru, KD menjadi korban pengeroyokan warga hingga sepeda motor yang digunakannya dibakar.

Saat ditanya Dedi Mulyadi mengenai sepeda motor tersebut, Dewi mengaku kendaraan itu bukan miliknya, melainkan hasil pinjaman atau gadai.

“Itu punya pribadi? Bukan pinjam,” kata Dedi.

“Pinjam pak, gade istilahnya gade,” jawab Dewi.

Dedi kemudian mempertanyakan keterangan tersebut karena sebelumnya Dewi mengaku mengalami kesulitan ekonomi hingga tidak memiliki beras ketika suaminya pergi selama tiga hari.

Namun, keterangan mengenai sepeda motor itu kembali berbeda.

Menurut Kasubsi PIDM Sihumas Polres Badung, Ipda Ni Nyoman Yuni Eltari, motor yang digunakan KD diduga merupakan kendaraan hasil curian di Kabupaten Bangli pada 2019.

Perbedaan antara pengakuan Dewi dan temuan aparat kepolisian kini menjadi perhatian publik.

Kasus tersebut masih terus didalami pihak berwenang untuk mengungkap fakta sebenarnya.

Di sisi lain, kasus dugaan pencurian ayam yang berujung pengeroyokan di Tabanan, Bali, menyisakan cerita berbeda dari dua keluarga yang terlibat.

Di satu sisi, keluarga terduga pencuri ayam mendapat perhatian dan bantuan setelah kisah mereka viral.

Namun di sisi lain, keluarga pemilik ayam justru menghadapi kondisi sulit setelah ayah dan anaknya diamankan polisi.

Peristiwa yang melibatkan pria berinisial KD itu menjadi sorotan setelah video anak KD berinisial K (7) yang menangis histeris saat pemakaman ayahnya beredar luas di media sosial.

Setelah kejadian tersebut, polisi menetapkan lima orang sebagai tersangka, termasuk pihak keluarga pemilik ayam.

Situasi itu membuat kehidupan Ni Komang Narti berubah drastis.

Narti mengaku kini harus kembali bekerja di kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah suami dan anaknya ditangkap karena diduga terlibat dalam kasus pengeroyokan yang menyebabkan KD meninggal dunia.

Sebelum kejadian, keluarga Narti menggantungkan hidup sebagai petani sayur sekaligus memelihara ayam sebagai tambahan penghasilan.

“Dari dulu memang suami dan anak saya memelihara ayam, karena penjualan ayam yang sangat membantu perekonomian kami.

Biasanya ayam yang masih kecil bisa laku Rp500 ribu. Sementara untuk ayam yang sudah dipelihara lama bisa dijual Rp5 juta,” katanya.

Ia mengaku dalam kurun waktu dua bulan telah kehilangan 16 ekor ayam.

“16 ekor ayam suami saya hilang,” katanya.

Sementara itu, Ni Putu Ayu Yuni mengaku anaknya terus menangis setelah suami dan mertuanya ditangkap polisi.

“Sempat nanya, karena bapaknya nyuruh ‘jangan bilang saya kenapa-kenapa, bilang aja saya kerja’. Kemarin dia nangis sampai ketiduran. Manggil bapak terus,” katanya.

MJ diketahui merupakan seorang petani sekaligus tulang punggung keluarga yang menghidupi istri dan dua orang anak.

Sebelum ditangkap, sang suami sempat mengaku khawatir karena fotonya telah tersebar di media sosial.

“Dia bilang gini aja, ‘ada foto saya di sana nanti gimana ini kalau udah viral gini’. Terus saya tanya, ‘sempat ikut emangnya?’. ‘Gak’, saya kan gak tahu,” katanya.

Ia berharap hukuman terhadap suaminya dapat diringankan agar bisa kembali mencari nafkah bagi keluarga.

“Semoga diringankan cepat pulang soalnya dia yang jadi tulang punggung keluarga. Mertua saya juga sakit gak bisa bekerja di kebun, anak saya juga masih kecil-kecil,” katanya.
(Timred)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *